Terbangun di pagi hari dengan mengetahui jika diri masih melajang, tidak ada yang membangunkan dan hanya intuisi seorang pemalas tobat yang menjadi Alarm pagi ini, menghindari terlambat lagi. Masih menggeliat di matras tipis busa dengan kelopak mata yang masih saja susah terbuka. Saya bangun dengan bersyukur masih diberi hidup hari ini untuk menikmati kelajangan berlanjut ini. Sambil mengaca di cermin kamar mandi dan berkata pada diri sendiri "selamat, anda sudah menjomblo selama 7 bulan, keep the progress" dan mulai mandi seperti orang yang merasa selalu 'kotor' akan dirinya sendiri seraya menghantam-hantamkan air ke tubuh 'kotor' ini.
Seakan merasa sedikt 'suci' dengan ritual mandi di pagi hari, dan masih saja intuisi seorang pemalas yang sudah tobat yang selalu membuat mata ini melirik ke arah jam dinding yang menggantung tinggi. Bergegas berpakaian dan kembali mengaca di kata besar sambil berpikir, "sepertinya ada yang salah dengan perkatan Nobody's Perfect ". Quotes yang sangat tidak tepat dengan cara pandang saya mengenai takaran Perfect , menurut saya. Everybody's Have Their Own Perfect yang menurut saya adalah perkataan yang tepat untuk cara pandang saya yang lebih memuliakan Rumus Albert Einstein ketimbang rumusan takaran keuangan ataupun rumus Stright Line Amortisasi yang sedang saya pelajari di Perkuliahan. Ya E=mc2 adalah rumus Relatifitas yang sangat saya kagumi, banyak pertimbangan yang bisa kita buat dengan mengacu kepada rumus ini. Kaya itu relatif, miskin itu relatif, baik itu relatif, jahat itu relatif, dosa itu relatif, cinta itu relatif bahkan kesendirian itu relatif.
Semakin lama saya melamun di depan kaca, semakin saya terseret dalam pikiran-pikiran saya sendiri yang selalu bertanya-tanya dan menjawab-jawab sendiri pertanyaan yang saya pertanyakan kepada diri sendiri yang hasilnya belum tentu benar. Berjalan ke dapur dan hanya mendapati nasi yang masih di masak dan belum matang yang pastinya membuat jadwal sarapan pagi saja jadi ke siang. Terpaksa memkan roti yang sedikit keras di Lemari Pendingin dan kegilaan percakapan ini kembali menyelinap masuk melamunkan pikiran,
Me : Wah….anda sudah menjomblo selama 7 bulan.
Myself : Hebat bukan???
I : Yaaaa….lumayan lah.
Me : Sudahlah, jangan mengejek dia.
I : Siapa yang mengejek, masalahnya mana ada orang yang membanggakan kejombloannya?!?!
Myself : Apa salahnya membanggakan itu semua??
Me : Iya…apa salahnya??
I : Tidak ada yang salah……sudahlah lupakan saja..!!
Me : Sepertinya butuh waktu untuk Jujur kepada diri sendiri sebelum jujur dengan orang lain, dengan pasangan.
Myself : Damn true..!!
I : Yup…..tetapi jujur itu relatif..!!
Me : Segalanya relatif..!!
Myself : Dasar kalian penggila teori Relatifitas.
I : Ya…kita semua haha..!!
Tak terasa Roti yang saya makan sudah habis dan waktu menunjukkan waktu saya hanya tersisa sedikit untuk berangkat ke Kampus. Dan seperti orang yang pemalas yang sudah tobat, terburu-buru memakai sepatu dan jaket. Sambil terburu menghirup air putih hangat yang hampir terlupakan saya menuju garasi dan mulai menaiki motor menuju Kampus, sekeras apapun saya mengikat "Kemalasan" itu selalu saja "malas" datang seperti anjing setia yang selalu saja mengikuti majikannya kemapun majikan itu pergi. Sambil menggerutu karena "kemalasan" mengikuti selalu, dan sebelum melaju berakselerasi menjalani keseharian layaknya seorang lajang saya berdoa, "Peduli setan, and Thanks God I'm Single."
(entah fiksi, entah nyata, tulisan ini terjebak di tengah-tengahnya)
-10-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar