Sewaktu ketika ada seorang tukang kebun yang sangat bekerja keras untuk megindahkan tamannya yang sepi, tapi dia menyadari ada yang kurang dari tamannya yg sepi tersebut. Dia tidak mempunyai bunga.
Selain tukang kebun tersebut ada seorang florist yang pekerjaannya untuk memperindah ruang tamu majikannya. Tukang kebun tersebut sangat iri dengan pekerjaan seorang florist tersebut, tetapi dia tetap sabar dengan pekerjaannya sebagai tukang kebun.
Suatu hari florist yang berkerja untuk mengindahi ruang-ruang majikan na membuang satu bunga yang di anggapnya tidak cantik dan di sia-siakan bunga tersebut tergeletak d depan jendela taman. Pada saat itu sang tukang kebun melihat ada bunga yang disia-siakan di taman kesayangan yang sepi tersebut. Tanpa panjang lebar tukan kebun tersebut mengambil dan menanam kembali bunga tersebut di halamannya yang sepi, seketika itu juga taman sang tukang kebun tidak sepi kembali biarpun hanya ada satu bunga yang di tanam d taman tukang kebun tersebut dan tukang kebun tersebut berjanji pada dirinya sendiri untuk merawat baik-baik dan menjaga bunga tersebut dengan sepenuh hati.
Setiap hari tuakang kebun tersebut menyiram dan memupuki bunga tersebut sehingga bunga yang tadinya d sia-sia kan oleh sang florist menjadi lebi indah dari bunga-bunga yang ada di dalam ruangan majikan mereka. Tukang kebun sangat senang dengan kondisi bunga yang dia rawat dan jaga, dan sang tukan kebun memamerkannya kepada sang majikan dan florist. Dan sang majikan akhirnya menyuruh si tukang kebun untuk menanam bunga-bunga yang akan di pajang di ruang-ruang rumah sang majikan sehingga si tukang kebun dapat memananam lebih bnyak bunga lagi di tamannya yang sepi tersebut.
Setiap hari si tukang kebun bekerja untuk memelihara tamannya yang semakin ramai dengan bunga-bunga dan poho-pohon yang indah. Biarpun si tukang kebun tidak lg sepi di tamannya yang sudah ramai sekarang, tetapi si tukang kebun tetap saja merawat bunga pertamanya dengan sepenuh hati dan jiwa nya, karena bunga tersebut yang mengajarkannya bahwa sesepi apapun diri mu dulu dan seramainya apapun dirimu skarang itu adalah sebuah hal yang harus tetap di syukuri keadaannya.
Si florist yang tadinya nyaman dengan pekerjaannya dan mengira jabatannya lebih tinggi dari si tukang kebun mulai iri dengan pekerjaan sang tukang kebun tersebut. Dia mulai mencari akal untuk meneguhkan posisinya kalau seorang florist lebih tinggi kastanya dari tukang kebun, setiap ada kesempatan bertemu dengan sang majikan si florist mengada-ngada tentang hasil bunga si tukang kebun yang tidak bagus dan tidak berkualitas untuk d pajang d ruangan sang majikan.
Seketika itu juga sang majikan yang mendengar keluhan si florist langsung memanggil si tukang kebun, si tukang kebun di tanyai dan di introgasi tentang kesanggupannya untuk mengelola taman sang majikan. Karena terhasut bujukan si florist yang merasa iri hati akhirnya si tukang kebun di berhentikan oleh sang majikan. Si tukang kebun sangat sedih dan kecewa, dia sudah sangat sayang kepada taman yang dia tanam dan kelola sehingga taman tersebut menjadi indah dan ramai yang padahal sebelumnya taman tersebut sangat sepi dan dia sangan sayang pada bunga pertamanya yang sudah dia jaga dengan sepenuh hati dan raganya, si tukang kebun takut kalo si bunga dan taman kesayangannya tersebut tidak akan indah lagi sepeninggalan dirinya.
Tetapi yang paling membuat kecewa si tukang kebun tersebut adalah taman tersebut dan bunga pertamanya tumbuh semakin indah dari sebelumnya dan semakin ramai. Padahal yang mengurus taman tersebut adalah si florist yang pekerjaannya cuman menyirami tanaman-tanaman yang ada di taman tersebut. Si tukang kebun merasa sangat dikhianati oleh taman tersebut dan terutama oleh bunga pertamanya, yang dulunya bunga tersebut bukan apa-apa dan di buang oleh si florist yang akhirnya si tukang kebun menanam kembali bunga tersebut dan merawat bunga tersebut dengan sepenuh hati dan jiwanya sehingga menjadi indah dan cantik, tetapi bunga tersebut malah semakin indah dan cantik di tangan seorang florist yang dulunya dia menyia-nyiakan bunga tersebut.
Sang tukang kebun hanya tak dapat percaya kalau si bunga tersebut menghianatinya dan membuatnya sakit hati. Tapi si tukang kebun menyadari apa daya dirinya menghadapi keadaan ini, lalu dia hanya bisa pergi dengan hati yang di khianati dan rasa kecewa yang dia simpan di dalam hatinya, dia pergi.
